Selasa, 15 Juli 2014

Membantu Orang yang Lemah oleh Abay



Assalamualaikum wr. Wb.


Alhamdulillah, alhamdulillahirabbil alaamin wabihii nastainu ala umuriddunya wadin wassholatu wassalamu ala ashrofil anbiya i wal mursalin sayyidina wa maulana muhammadin wa alaa alihii wa shohbihi ajmaiina amma ba’du.


Yang saya terhormat bapak ibu dewan juri.


Yang saya hormati bapak ibu pendamping, serta teman-teman peserta pentas pendidikan agama islam yang saya sayangi.


Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayahnya kepada kita sehingga kita dapat berkumpul disini dalam keadaan sehat wal afiyat. Tak lupa shalawat serta salam selalu kita sanjungkan kepada nabi besar, baginda Rasulullah saw. Semoga kita kelak mendapatkan syafaatnya di yaumul kiyamah. Aaaaamiin.


Terimakasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya. Saya disini akan menyampaikan sedikit uraian mengenai membantu orang yang lemah.


Kawan-kawanku muslimin-muslimat yang berbahagia, sebagai seorang muslim kita harus saling membantu. Sebagai manusia, kita mempunyai hakikat sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dan membutuhkan orang lain, maka dari itu dalam hidup ini kita harus bantu-membantu. Apalagi jikalau ada saudara kita yang sedang kesusahan, saudara kita yang lemah. Kita diwajibkan untuk membantu yang lemah.


Teman-teman, jangan sekali-kali kita meremehkan orang-orang yang lemah. Seseorang yang ditaqdirkan oleh Allah menjadi orang yang lemah, baik itu karena badannya tidak kuat dan sering sakit-sakitan, atau karena miskin tidak punya harta, ataupun karena menjadi wong cilik dan rakyat biasa, hendaknya tidak perlu mlinder dan malu, serta merasa rendah. Karena Allah-lah yang telah menentukan keadaannya demikian. Yang terpenting baginya adalah berusaha sekuat tenaga untuk beribadah kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Itulah hakikat ketaqwaan. Kalau dia berusaha selalu istiqomah di dalam ketaqwaan tersebut, niscaya kedudukannya menjadi mulia di sisi Allah, walaupun di dunia ini tidak dihargai oleh manusia. Orang –orang yang lemah , tetapi tetap istiqomah dengan ketaqwaan-nya tersebut ternyata mempunyai kelebihan-kelebihan yang diberikan Allah kepada mereka . Diantara kelebihan- kelebihan tersebut adalah :


1/ Kalau ia bersumpah kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkan sumpahnya.Rosulullah saw bersabda :“ Barangkali orang yang rambutnya semrawut dan bajunya berdebu, serta selalu ditolak jika bertamu, jika ia bersumpah kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya “ ( HR Muslim )

Maksudnya adalah orang yang miskin yang tidak punya minyak rambut untuk merapikan rambutnya dan tidak punya baju banyak, sehingga kelihatannya lusuh serta tidak punya jabatan, sehingga sering diremehkan orang. Tetapi orang miskin dan lemah ini tetap istiqomah dengan ajaran Islam, maka jika ia bersumpah kepada Allah, niscaya Alah akan mengabulkannya. Karena walaupun dia kelihatan hina di mata manusia, tetapi dia adalah makhluk Allah yang sangat mulia di sisi-Nya sehingga dipenuhi permintaannya.


2/ Kebanyakan orang yang masuk syurga adalah orang – orang yang miskin.Rosulullah saw bersabda :


“ Saya pernah berdiri di pintu syurga, ternyata yang saya lihat bahwa kebanyakan penghuninya adalah orang –orang miskin, sedangkan orang –orang kaya tertahan (yaitu belum diperkenankan masuk syurga dahulu) “ ( HR Bukhari dan Muslim )


Hadist di atas mengisyaratkan bahwa orang –orang yang lemah dan miskin, biasanya lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah swt daripada orang kaya, walaupun tidak secara mutlak. Karena orang –orang yang lemah dan miskin , biasanya merasakan dirinya lemah dan memerlukan bantuan, sehingga selalu berdo’a dan mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Kaya dan Maha Kuasa. Sebaliknya orang –orang yang kuat dan kaya, biasanya terlena dengan kekuatan dan kekayaannya. Dia merasa tidak membutuhkan lagi pertolongan orang lain, sehingga lupa kepada Allah. Dia merasa tidak perlu berdoa, karena semuanya sudah serba kecukupan.Akhirnya dia semakin jauh dengan Allah.


Juga barangkali, karena orang – orang yang miskin dan lemah tanggung jawabnya relatif lebih sedikit dibanding dengan orang yang kuat, penguasa dan kaya. Karena orang yang berkuasa dan kuat harus mempertanggug jawabkan kekuasaannya di hadapan Allah. Begitu juga orang yang kaya, tentunya dia akan mempertanggung jawabkan kekayaannya, darimana di dapatkannya, dan untuk apa dipergunakannya. Sangat sedikit yang selamat dari ujian semacam ini. Maka wajarlah , jika kebanyakan penduduk syurga adalah orang – orang yang lemah dan miskin.


3/ Orang-oang yang lemah dan miskin biasanya lebih cepat menerima kebenaran.Sebaliknya orang –orang yang kuat dan kaya biasanya menjadi penghalang dakwah dan menolak kebenaran.Allah swt berfirman :


“ Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negri seorasng pemberi peringatanpun ,melainkan oang –orang yang hidup mewah dinegri itu berkata “ Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya “ . Dan mereka berkata :“ Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak- anak ( dari pada kamu ) dan kami sekali-laki tidak akan di adzab “ ( QS as Saba : 34-35 )


4/ Orang- orang lemah dan miskin adalah salah satu sumber kekuatan Islam. Rosulullah saw bersabda : “ Sesungguhnya kamu diberi kemenangan dan dilimpahkan rizqi karena adanya orang –orang lemah diantara kalian “ ( Hr Bukhari , Tirmidzi dan Abu Daud )


Berkata Al Manawi : “ Maksud hadist d atas adalah bahwa salah satu unsur kemenangan kaum msulimin adalah dengan do’a orang – orang yang fakir miskin,karena hati mereka biasanya lembut dan peka ( inkisar ) , sehingga lebih memungkinkan untuk di kabulkan “


Di dalam Syarh Sunnah di sebutkan bahwa Rosullah saw meminta kemenagan dengan bantuan orang – orang miskin dari orang – oran Muhajir.


Berkata Al Qori : “ Alasan disebutkan Muhajirin secara khusus karena mereka mempunyai beberapa sifat :

Mereka orang fakir miskin

Mereka orang yang asing ( musafir )

Mereka di dholimi ( karena di usir dari kampung halamannya )

Mereka orang yang berijthad

Mereka orang –orang mujahid yang berperang di jalan Allah


Sehingga do’a mereka tentunya lebih mustaja dibanding dengan yang lainnya yang tidak mempunyai sifat- sifat di atas.


Di dalam Sunan Nasai disebutkan bahwa Rosulullah saw bersabda : “ Hanyasanya Allah Menolong umat ini karena ada orang – orang yang lemah di dalamnya , yaitu karena doa’ sholat serta keikhlasan mereka “


Berkata Ibnu Mundzir : “ Artinya bahwasanya ibadatnya orang – orang yang lemah dan do’a mereka biasanya lebih ikhlas, karena hati mereka tidak tergantung kepada keindahan kehidupan dunia ini dan konsentrasi mereka hanya pada satu fokus saja ( yaitu akhirat) sehnigga do’a mereka mustajab dan amalan mereka bersih. Oleh karenanya, orang-orang beriman di perintahkan untuk bersama mereka, sebagaimana firman Allah di dalam ( Qs Al Kahfi : 28 ) , dalam surat lain Allah berfirman : “ Adapun terhadap orang yatim , janganlah kamu berlaku sewenang- wenang . Dan terhadap orang yang minta- minta , maka janganlah kamu menghadirknya “ ( Ad Duha :9-10 )


5/ Orang –orang lemah dan miskin adalah penyebab turunnya barokah dan rizqi dari Allah .Hadist Bukhari di atas. Rosulullah bersabda : “ Kalau bukan karena binatang ternak, maka mereka tidak akan di berikan hujan “ ( HR Ibnu Majah )


6/ Orang – orang yang lemah dan miskin adalah para penangkal malapetaka.


Rosulullah bersabda :


“Seandainya kalau bukan karena para pemuda yang khusu’, binatang ternak yang sedang mencari makan, anak- anak yang sedang menyusui , maka niscaya Allah akan menurunkan kepada kalian adzab “ ( HR Abu Ya’la Dan Bazzar )


Hadist di atas menunjukkan bahwa makluk yang tidak berdaya akan selalu dilindungi oleh Allah swt.


6/ Orang yang lemah dan miskin sebagai sarana untuk masuk syurga .


Rosulullah saw bersabda :


“ Saya dan orang yang memelihara anak yatim di syurga seperti ini “ Seraya mengangkat jari telunjuk dan jari tengah serta direnggangkan antara keduanya. (HR Bukahri ) 5304 Kitab Tholak .


“ Barang siapa yang merawat dua anak perempuan sehingga mereka baligh, maka ketika ia datang pada hari kiamat, saya dan dia kedudukannya seperti ini “ , seraya menempelkan jari telunjuk dan jari tengahnya . ( HR Muslim ( 2631) Kitab Al Birr wa al sillah ,


Oleh karena itu, janganlah dalam hidup ini kita hanhya mementingkan diri sendiri. Hanya menjadi seorang yang egois dengan tidak memperhatikan keadaan sekitar. Kalo dulu saja, seorang sahabat tidak mau makan apabila tetangganya ada yang belum makan. Janganlah ubah pepatah lama, mangan ra mangan sing penting kumpul menjadi kumpul ra kumpul sing penting mangan.


Demikian, Wassalamualaikum Wr. Wb.





Larangan Menyekutukan Allah oleh Abay



Assalamualaikum wr. Wb.


Alhamdulillah, alhamdulillahirabbil alaamin wabihii nastainu ala umuriddunya wadin wassholatu wassalamu ala ashrofil anbiya i wal mursalin sayyidina wa maulana muhammadin wa alaa alihii wa shohbihi ajmaiina amma ba’du.


Yang saya terhormat bapak ibu dewan juri.


Yang saya hormati bapak ibu pendamping, serta teman-teman peserta pentas pendidikan agama islam yang saya sayangi.


Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayahnya kepada kita sehingga kita dapat berkumpul disini dalam keadaan sehat wal afiyat. Tak lupa shalawat serta salam selalu kita sanjungkan kepada nabi besar, baginda Rasulullah saw. Semoga kita kelak mendapatkan syafaatnya di yaumul kiyamah. Aaaaamiin.


Terimakasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya. Saya disini akan menyampaikan sedikit uraian mengenai larangan menyekutukan Allah. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an.


]فلا تجعلوا لله أندادا وأنتم تعلمون[


“Maka janganlah kamu membuat sekutu untuk Allah padahal kamu mengetahui (bahwa Allah adalah maha Esa) ” (QS. Al Baqarah, 22)


Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu dalam menafsirkan ayat tersebut mengatakan : “membuat sekutu untuk Allah adalah perbuatan syirik, suatu perbuatan dosa yang lebih sulit untuk dikenali dari pada semut kecil yang merayap di atas batu hitam, pada malam hari yang gelap gulita. Yaitu seperti ucapan anda : ‘demi Allah dan demi hidupmu wahai fulan, juga demi hidupku’, Atau seperti ucapan : ‘kalau bukan karena anjing ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri itu’, atau seperti ucapan : ‘kalau bukan karena angsa yang dirumah ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri tersebut’, atau seperti ucapan seseorang kepada kawan-kawannya : ‘ini terjadi karena kehendak Allah dan kehendakmu’, atau seperti ucapan seseorang : ‘kalaulah bukan karena Allah dan fulan’.


Oleh karena itu, janganlah anda menyertakan “si fulan” dalam ucapan-ucapan diatas, karena bisa menjatuhkan anda kedalam kemusyrikan.” (HR. Ibnu Abi Hatim)


Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda yang artinya :


“Barangsiapa yang bersumpah dengan menyebut selain Allah, maka ia telah berbuat kekafiran atau kemusyrikan” (HR. Turmudzi, dan ia nyatakan sebagai hadits hasan, dan dinyatakan oleh Al Hakim shoheh).






Dan Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu berkata :


“Sungguh bersumpah bohong dengan menyebut nama Allah, lebih Aku sukai daripada bersumpah jujur tetapi dengan menyebut nama selainNya.”






Diriwayatkan dari Hudzaifah Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: "


“Janganlah kalian mengatakan : ‘atas kehendak Allah dan kehendak si fulan’, tapi katakanlah : ‘atas kehendak Allah kemudian atas kehendak si fulan’.” ( HR. Abu Daud dengan sanad yang baik ).


Diriwayatkan dari Ibrahim An Nakha’i bahwa ia melarang ucapan : “Aku berlindung kepada Allah dan kepadamu”, tetapi ia memperbolehkan ucapan : “Aku berlindung kepada Allah, kemudian kepadamu”, serta ucapan : ‘kalau bukan karena Allah kemudian karena si fulan’, dan ia tidak memperbolehkan ucapan : ‘kalau bukan karena Allah dan karena fulan’.


Kawan-kawanku muslimin muslimat yang berbahagia.
Pembatal ke-Islaman seseorang yang paling besar adalah syirik kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa. Oleh karena itu kita temukan dalam al Qur`an Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa mengingatkan kita (agar menjauhkan) syirik, orang-orang yang melakukan syirik dan akibat yang akan mereka rasakan, dalam banyak ayat. Lafadz syirik dan bentukannya disebutkan berulang-ulang dalam al Qur`an lebih dari 160 kali. Demikian juga dalam sunnah, kita temukan sangat banyak hadits-hadits Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam yang menjelaskan bahayanya.



PENGERTIAN SYIRIK

Menurut bahasa: Syirik adalah sebuah kata yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu yang terjadi antara dua orang atau lebih.

Menurut istilah syar’i: Syirik kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa maksudnya menjadikan sekutu bagi Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa, baik dalam rububiyahnya ataupun uluhiyahnya, tetapi istilah syirik lebih sering digunakan untuk syirik dalam uluhiyahnya.

Atau: menyamakan selain Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dengan Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dalam hal-hal yang menjadi hak Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa.



HUKUM SYIRIK

Syirik adalah larangan Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa yang paling besar. Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman dalam surat An Nisaa` ayat 36:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.”

Syirik juga merupakan perbuatan haram yang pertama (harus ditinggalkan). Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa berfirman dalam surat Al An’aam ayat 151:

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلاَ تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ مِنْ إِمْلاَقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلاَ تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلاَ تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).”



PENGGUNAKAN KATA SYIRIK

Jika anda mendapat istilah syirik dalam buku aqidah maka maksudnya bisa berarti syirik akbar atau syirik ashghar. Maka anda jangan menghina orang-orang yang mendakwahkan tauhid bahwa mereka selalu menghukumi segala sesuatu dengan syirik. Fahamilah setiap ungkapan pada tempatnya yang tepat.

Oleh karena itu anda perlu mengetahui bahwa syirik dalam pengertian syar’I digunakan untuk tiga makna:

1. Meyakini ada sekutu bagi Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dalam kekuasaan, rububiyah, mencipta, memberi rizqi dan mengatur alam. Siapa yang meyakini bahwa ada orang yang mengatur alam ini dan mengatur seluruh urusannya, maka ia telah menyekutukan Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dalam rububiyah dan telah kafir kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa.



2. Meyakini adanya dzat selain Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa yang bisa memberikan manfaat atau madlarat, dzat ini merupakan perantara antara Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dan makhluq, maka sebagian jenis ibadah ditujukan padanya. Inilah yang dinamakan syirik dalam uluhiyyah. Syirik inilah yang banyak dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy. Mereka mengatakan tentang sembahan mereka


Mempertimbangkan (dapat perhatian, pujian dan lain-lain) dari selain Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dalam perkataan maupun perbuatan. Adapun mempertimbangkan perhatian atau pujian dalam perbuatan seperti riya yang dilakukan oleh orang yang rajin ibadah, misalnya ketika shalat, ia panjangkan berdiri, ruku’ dan sujudnya kemudian ia tampakkan kekhusyu’annya di hadapan orang banyak, ketika ia puasa, ia tampakkan bahwa dirinya sedang puasa, misalnya dengan mengatakan: “Apa anda tidak tahu bahwa hari ini Senin (atau Kamis) ?” “Apa anda tidak puasa ?” Atau ia katakan: “Hari ini saya undang anda untuk berbuka puasa bersama ?” Demikian pula haji dan jihad. Ia pergi haji dan jihad tetapi tujuannya riya`.


Nah, disinilah berlaku keutamaan tauhid, Berbicara tentang keutamaan tauhid sebenarnya terkandung unsur kewajiban untuk bertauhid. Sebab “tidak berarti bahwa adanya keutamaan pada sesuatu berarti bahwa sesuatu itu tidak wajib, karena keutamaan merupakan hasil atau buah yang ditimbulkan. Seperti sholat jama’ah yang telah jelas keutamaannya dalam hadits Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam:

صلاة الجماعة أفضل من صلاة الفذ بسبع وعشرين درجة
“Shalat jama’ah lebih utama daripada shalat sendiri, dua puluh tujuh derajat.” (HR Imam Bukhari [Kitab Adzan, bab Keutamaan Shalat Jama’ah] dan Imam Muslim (Kitab Al Masajid [masjid-masjid], Bab Keutamaan Shalat Jam’ah) Keutamaan yang ada pada shalat jama’ah ini tidak berarti bahwa shalat jama’ah ini tidak wajib.

Jadi tidak selalu berarti bahwa ketika kita berbicara tentang keutamaan tauhid berarti tauhid itu tidak wajib, sebab tauhid adalah kewajiban yang paling pertama. Tidak mungkin suatu amal akan diterima tanpa tauhid. Tidak mungkin seorang hamba bertaqarrub kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa tanpa tauhid. Sekaligus bahwa tauhid juga memiliki keutamaan.

Faidah tauhid sangat banyak, diantaranya:

1. Tauhid adalah penopang utama yang memberikan semangat dalam melakukan ketaatan kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa; sebab orang yang bertauhid akan beramal untuk dan karena Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa, baik ketika ia sendiri maupun ketika bersama orang banyak. Sedangkan orang yang tidak bertauhid, misalnya seperti orang yang riya`, ia hanya akan bersedekah, shalat dan berdzikir kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa kalau ada orang yang melihatnya. Oleh karena itu sebagian ulama salaf mengatakan: Sesungguhnya saya sangat ingin bertaqarrub kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dengan melakukan ketaatan yang hanya diketahui oleh Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa.

2. Orang-orang yang bertauhid akan mendapatkan ketenangan dan petunjuk, sebagaimana firman Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa:

الذين ءامنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS Al An’aam ayat 82)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: “Mereka adalah orang-orang yang memurnikan ibadah hanya kepada Nya semata yang tidak ada sekutu bagi Nya, dan mereka tidak menyekutukan Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa sedikitpun dalam berbagai hal. Mereka itulah yang akan mendapatkan keamanan pada hari Qiamat dan mendapatkan petunjuk di dunia dan akhirat.”

Syekh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin –hafizhalullah- mengatakan: Firman Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa (Wahum Muhtaduun; dan merekalah orang-orang yang mendapatkan hidayah) maksudnya di dunia, (mendapatkan hidayah) menuju syari’at Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa dengan ilmu dan amal. Mendapat hidayah dengan ilmu adalah hidayah irsyaad, sedangkan mendapat hidayah dengan amal adalah hidayah taufiq. Mereka juga mendapatkan hidayah di akhirat menuju surga. Hidayah di akhirat ini, untuk orang-orang yang zhalim (mereka mendapatkan hidayah) jalan menuju neraka jahim, sebaliknya untuk orang-orang yang tidak zhalim mendapat hidayah jalan menuju surga (yang penuh kenikmatan). Banyak diantara ulama tafsir yang mengatakan tentang firman Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa (أُولَئِكَ لَهُمُ الأَْمْنُ) mereka adalah orang-orang yang mendapatkan rasa aman: Rasa aman itu di akhirat sedangkan hidayah itu di dunia. Pendapat yang lebih tepat bahwa rasa aman dan hidayah itu bersifat umum, baik di dunia maupun di akhirat.”

Ketika ayat ini turun dirasakan berat oleh para sahabat -radliyallaahu 'anhum-. Mereka mengatakan: “Siapakah diantara kita yang tidak menzholimi dirinya sendiri ?” Kemudian Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam menjelaskan: “Maksud ayat tersebut bukan seperti yang kalian kira, yang dimaksud zholim dalam ayat tersebut adalah syirik, tidakkah kalian mendengar perkataan lelaki yang sholeh, Luqman:

إن الشرك لظلم عظيم
“Sesungguhnya syirik adalah kezhaliman yang sangat besar.” (QS Luqman: 13)

Ada beberapa jenis zholim

1) Zholim yang paling besar yaitu syirik dalam hak Allah Subhaanahu Wa Ta'aalaa.
2) Zholim yang dilakukan seseorang terhadap dirinya sendiri, dengan tidak memberikan haknya, seperti orang yang berpuasa dan tidak berbuka, orang yang shalat malam terus dan tidak tidur.
3) Zholim yang dilakukan seseorang terhadap orang lain, misalnya memukul, membunuh, mengambil harta dan lain-lain.
Jika tidak ada kezholiman maka akan terwujud keamanan. Namun apakah keamanan yang smepurna ?
Jawabannya: jika imannya sempurna dan tidak dicampuri ma’shiyat maka akan terwujud rasa aman yang mutlak (sempurna), jika iamnnya tidak sempurna maka yang akan terwujud adalah rasa aman yang kurang juga.




Demikian yang dapat saya sampaikan, jika ada kekurangan dan kesalahan, maka itu datangnya dari diri saya sendiri, untuk itu saya mohon maaf. Dan apabila ada kebenarannya maka itu datangnya dari Alloh semata.


Akhirul kalam, wabillahitaufiq wal hidayat


Wassalamualaikum wr. Wb.





Nb: iyya kana’buduu wa dukunastain bisa dimasukkan untuk cerita

Kewajiban Menuntut Ilmu by Aditya Bayu Anggara



Assalamualaikum wr. Wb.


Alhamdulillah, alhamdulillahirabbil alaamin wabihii nastainu ala umuriddunya wadin wassholatu wassalamu ala ashrofil anbiya i wal mursalin sayyidina wa maulana muhammadin wa alaa alihii wa shohbihi ajmaiina amma ba’du.


Yang saya terhormat bapak ibu dewan juri.


Yang saya hormati bapak ibu pendamping, serta teman-teman peserta pentas pendidikan agama islam yang saya sayangi.


Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayahnya kepada kita sehingga kita dapat berkumpul disini dalam keadaan sehat wal afiyat. Tak lupa shalawat serta salam selalu kita sanjungkan kepada junjungan kita, nabi besar, baginda Rasulullah saw. Semoga kita kelak mendapatkan syafaatnya di yaumul kiyamah. Aaaaamiin.


Terimakasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya. Saya disini akan menyampaikan sedikit uraian mengenai kewajiban menuntut ilmu.


Saudara-saudaraku, muslimin-muslimat yang berbahagia. Sama apa beda antara orang pinter dengan orang bodoh? Sekali lagi, sama apa beda antara orang pinter dengan orang yang bodoh? Ini pertanyaan dari Allah yang tidak perlu jawaban. Allah ndak butuh jawaban, karena sudah maklum kalo orang pinter sama orang bodoh sudah pasti berbeda, semuanya berbeda ndak ada yang sama, mulai dari gayanya berbeda, ngomongnya berbeda, lagaknya berbeda, kelakuannya berbeda, sampai ibadahnya juga berbeda.


Bahkan dalam suatu riwayat dikisahkan, saat setan disuruh memilih untuk menggoda orang sedang sholat tapi bodoh, dengan orang yang sedang tidur tapi berilmu. Dan, ternyata setan lebih memilih menggoda orang bodoh yang sedang beribadah. Kok bisa? Karena ibadahnya orang bodoh itu tidak dilandasi dengan ilmu. Beda dengan orang yang satunya, dia tidur tapi dia berilmu, sebelum tidur baca doa, di niatkan tidur untuk dapat melaksanakan ibadah kepada Allah, sampai tidurnya orang berilmu itu di nilai ibadah. Jadi, tidurnya orang berilmu itu lebih baik daripada ibadahnya orang bodoh.


Maka dari itulah kita sebagai umat Islam diwajibkan untuk menuntut ilmu, ilmu laksana pelita, ilmu adalah cahaya dalam kegelapan. Rasulullah SAW bersabda :






طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِ يْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُـسْلِمٍ وَ مُسْلِمَةٍ ( رواه الترمذى، ابن ماجه و النسائ )


Artinya : “ Menuntut ilmu ( itu ) wajib bagi setiap muslim laki – laki dan perempuan “


( H.R. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Nasai ).


Hukum menuntut ilmu itu ada 2, fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Fardhu ‘ain untuk ilmu agama dan fardhu kifayah untuk ilmu-ilmu duniawi. 


Ilmu itu sangat penting, bahkan segala amal perbuatan yang tidak didasari dengan ilmu akan sia-sia. Apalagi bagi kita yang sedang hidup di zaman jahiliyah modern seperti ini. Disebut jahiliyah tapi modern, disebut modern tapi jahiliyah. Untuk hidup di zaman serba jahiliyah modern seperti saat ini kita sangat membutuhkan ilmu sebagai pelita, sebagai penerang, sebagai petunjuk hidup kita.


Bayangkan saja, Seorang petani tidak akan menjadi petani yang sukses tanpa mengetahui ilmu dan cara bercocok tanam. Begitu pula seorang pedagang tidak akan menjadi pedagang yang sukses tanpa tahu ilmu dan cara berdagang.


Rasulullah SAW mengajak umatnya untuk mencari ilmu sejak ayunan bunda hingga liang lahat. Sebagaimana sabda beliau :


اُ طْلُبُوْا العِلْمِ مِنَ المَهْدِ اِلَى اللَّحْدِ


Artinya : “ Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat” .


Kita diperintahkan untuk menuntut ilmu dari kecil hingga mati, kenapa? Karena pada dasarnya ilmu itulah yang akan mendasari segala amal dan pernuatan kita. Ada sebuah cerita, 4 orang mau melakukan shalat berjamaah, salah satu dari mereka jadi imam dan 3 lainnya jadi makmum. Orang yang jadi imam saja baru jalan sudah dibuat-buat sampai takbir ikut-ikutan dibuat-buat, Allahu Akbar, subahanallah...


Sampe dengan bacaan surat-surat, dia bergaya, yang dibaca ndak lagi surat-surat pendek dalam Al-Qur’an, tapi langsung potongan ayat dalam Al-Qur’an. Bismilahirrahmanirrahim... wamaa.... wama.... wamaa.... woma wama woma wama, ndak tau lanjutannya, sampe makmum saja ndak tau ayat mana yang dimaksud, seketika itu juga makmu yang dibelakang imam kentut, cesss.... tapi bukannya ambil air wudhu dan mengulangi malah pura-pura tidak tau apa-apa dan sok tambah khusyu’. Nah, makmum yang satunya mencium baunya lalu bilang “ehng.. lha siapa yang kentut ini, baunya... lho kamu kentut ya batal a, ambil wudhu sana!” sudah 2 orang batal, kemudian makmum ketiga juga ikut-ikut nyambung, “he... udah-udah, shalat kok bicara, rame terus, batal kalian berdua” tambah satu lagi yang batal. Sampai-sampai imam juga ikut ketularan. Imam toleh kebelakang dan bilang “ heh, ini pada ngapain tah, orang sholat jadi makmum kok malah rame sendiri, kayak aku gini lho imam diam, khusyu’-khusyu’”. Dan akhirnya semuanya batal kan? Itulah kalo orang sholat, orang ibadah tapi tidak tau ilmunya, tidak dilandasi dengan ilmu.


Rasulullah juga bersabda:






مَنْ اَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالعِلْمِ، وَ مَنْ اَرَادَ اْلأَخِرَةِ فَعَلَيْهِ بِالعِلْمِ، وَ مَنْ اَرَادَ هُمَا فَعَلَيْهِ بِالعِلْمِ


(رواه الطبرانى)


Arti Hadits Mencari Ilmu


Barang siapa yang menghendaki kebahagiaan di dunia maka harus dengan ilmu, dan barang siapa menghendaki kebahagiaan akhirat maka harus dengan ilmu. Dan barang siapa yang menghendaki kebahagiaan keduanya (dunia dan akhirat) maka harus dengan ilmu (H.R. Thabrani)


Sudah jelas sekali bukan, kalau kita mau menelaah lebih dalam lagi. Pada tahun 2006 kalau tidak salah, saat itu adalah babak kualifikasi piala dunia antara kesebelasan arab melawan kesebelasan china. Kita tau bahwa bendera negara arab itu warnanya ijo bertuliskan laa ilaha illallah muhammadar rasulullah bergambarkan pedang, saat itu juga stadion dipenuhi oleh warna ijo, berhubung saat itu arab sedang bermain kandang. Seluruh penjuru stadion dipenuhi ijo-ijo, sambil terdengar teriakan takbir Allahu Akbar, alhasil dari pertandingan tersebut adalah 9-0 untuk kemenangan China. Wah, opo arab tahlilane kalah karo singkek iki? Bukannya seperti itu, tapi itu memang bukan tempatnya.


Kita juga jadi teringat beberapa tahun yang lalu saat final piala AFF antara Indonesia melawan Malaysia, sebelum pertandingan kan seperti yang kita ketahui, bahwasannya para pemain, pelatih, oficial melakukan istighosah, tapi alhasil dari npertandingan dimenangkan oleh Malaysia. Sama seperti tadi, karena itu bukan tempatnya istighosah, bukan tempatnya takbir. Kalau zaman dahulu takbir, istighosah itu digunakan untuk melawan penjajah, untuk berperang. Para kiai melawan penjajah, dengan membaca ayat dan kemudian melemparkan batu ke kendaraan belanda, kendaraannya bisa meledak. Saya juga pernah coba saat itu saya baca ayatnya, saya lemparkan batu ke kucing, eh bukannya meledak malah kucing lari, sambil meringis J. Itulah kalau tidak didasari ilmu, bikan istighosahnya yang tidak mempan, bukan doanya yang tidak mempan, tapi itu karena salah penempatan.bayangkan saja kalau dalam sepak bola diadakan istighosah bisa menang saya khawatir nanti perjudian juga diistighosahi, naudzubillah.


Itulah kegunaan ilmu, ilmu sangat penting untuk kehidupan kita. Apalagi di zaman jahiliyah modern ini, ilmu sangat penting untuk dijadikan pelita, penerang dalam kehidupan.


Demikian yang dapat saya sampaikan, jika ada kekurangan dan kesalahan, maka itu datangnya dari diri saya sendiri, untuk itu saya mohon maaf. Dan apabila ada kebenarannya maka itu datangnya dari Alloh semata.


Akhirul kalam, wabillahitaufiq wal hidayat


Wassalamualaikum wr. Wb.





Keutamaan Shalat Berjamaah oleh Aditya Bayu Anggara



Assalamualaikum wr. Wb.


Alhamdulillah, alhamdulillahirabbil alaamin wabihii nastainu ala umuriddunya wadin wassholatu wassalamu ala ashrofil anbiya i wal mursalin sayyidina wa maulana muhammadin wa alaa alihii wa shohbihi ajmaiina amma ba’du.


Yang saya terhormat bapak ibu dewan juri.


Yang saya hormati bapak ibu pendamping, serta teman-teman peserta pentas pendidikan agama islam yang saya sayangi.


Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayahnya kepada kita sehingga kita dapat berkumpul disini dalam keadaan sehat wal afiyat. Tak lupa shalawat serta salam selalu kita sanjungkan kepada nabi besar, baginda Rasulullah saw. Semoga kita kelak mendapatkan syafaatnya di yaumul kiyamah. Aaaaamiin.


Terimakasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya. Saya disini akan menyampaikan sedikit uraian mengenai keutamaan shalat berjamaah.


Kawan-kawanku muslimin-muslimat yang berbahagia.


Shalat adalah rukun Islam kedua dan merupakan rukun Islam yang amat penting setelah syahadatain. Shalat merupakan ibadah yang harus ditunaikan dalam waktunya yang terbatas (shalat memiliki waktu-waktu tertentu) dan Allah memerintahkan kita untuk selalu menjaganya. Sungguh telah banyak kaum muslimin yang meninggalkan shalat, baik itu yang tidak mendirikan shalat sama sekali ataupun menyia-nyiakan shalat dengan mengakhirkan waktu shalat. Allah Ta’ala telah mengancam orang-orang yang meremehkan dan mengakhirkan shalat dari waktunya.




“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat. (Yaitu) mereka yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al Ma’un:4-5)






Dalam hadits qudsy, Allah Ta’ala berfirman:


“Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku dalam dua bagian. Bagi hamba-Ku apa yang ia minta (akan diberikan). Maka jika hambaku mengucapkan:




‘Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam’, Maka Allah menjawab: ‘Hamba-Ku memuji-Ku’. Jika ia mengucapkan:




‘Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang’, Allah menjawab:’Hambaku menyanjung-Ku’. Jika ia mengucapkan:




‘Yang menguasai hari pembalasan’, Allah menjawab:’Hamba-Ku mengagungkan-Ku’. Jika ia mengucapkan:




‘Hanya Engkau yang kami sembah dan hanya Engkau yang kami mohon pertolongan’, Allah menjawab: ‘Ini bagian-Ku dan bagian hamba-Ku, dan baginya apa yang dia minta.’ Apabila ia membaca:




‘Tunjukilah kami jalan yang lurus (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat , bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat.’ Maka Allah menjawab:’Ini bagian hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.’” (HR.Muslim)


Termasuk perkara yang menghiasi shalat adalah perintah untuk melakukan shalat berjama’ah. Bahkan begitu pentingnya shalat berjama’ah sampai-sampai mulai zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sampai pada zaman para imam madzhab, mereka semua sangat memperhatikannya. Bukahkah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sampai pernah mengucapkan keinginannya untuk menyuruh seseorang mengimami orang-orang, dan yang lainnya mencari kayu bakar yang kemudian akan digunakan untuk membakar rumah-rumah orang yang tidak menghadiri shalat berjama’ah?.


Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa sholat berjamaah lebih utama dari pada sholat sendiri-sendiri (munfarid). Seseorang yang melakukan sholat jamaah akan mendapatkan pahala sebanyak 27 tujuh lebih banyak dari pada sholat sendiri. Akan tetapi, dalam keseharian kita, jarang sekali menyempatkan waktu untuk melakukan sholat jamaah.


Beberapa manfaat sholat jamaah adalah mempererat ukhuwah, memperkuat keimanan, dan juga memperkuat hal-hal lainnya. Bahkan pada zaman Rasulullah, sholat jamaah ini seperi hampir diwajibkan, terutama bagi laki-laki untuk sholat jamaah di masjid.


Dengan berjamaah, akan ada penyatuan ummat, seorang pemimpin akan dekat dan mudah memberikan arahan kepada umatnya. Ketika seorang Muslim sholat dengan sendiri-sendiri maka tidak ada interaksi, dan hala ini secara sosial akan rentan karena tidak diketahui siapa-siapa diantara ummat yang miskin dan yang sedang mengalami penderitaan.


Bagi ummat Islam, masjid pada hakikatnya adalah sebagai sentral gerakan sosial, dan bahkan gerakan politik. Sayangnya, di negeri ini ada masjid di mana-mana, namun jamaahnya tidak begitu banyak. Banyak umat Muslim, namun sholat berjamaah jarang dilakukan.


Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda.

"Artinya : Maukah aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang menyebabkan Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat ..? para shahabat menjawab ; Ya wahai Rasulullah, beliau bersabda, " Menyempurnakan wudlu meski dalam keadaan susah dan banyak-banyak mendatangi masjid, menunggu shalat setelah shalat.... itulah ribat, itulah ribat, itulah ribat" [Shahih Muslim 1/219 no 251 urutan 41 bab 14 kitab At-Thaharah]



Allah berfirman. .

"Artinya : Bertasbihlah kepada Allah di masjid-masjid yang telah
diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan
balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas" [An-Nur : 36-38] .

Banyak sekali ayat dan hadits-hadits dalam bab ini, maka bagi orang yang berkhidmat di masjid dan bertanggung jawab atas masjid baik atas nama pribadi, jama'ah, yayasan atau yang lain haruslah menghidupkan masjid dengan membangun, membersihkan, menghamparkan permadani, penerangan dan kesinambungan pemenuhan air serta lainnya yang termasuk di dalamnya demi kemudahan dan kelancaran hamba Allah untuk melaksanakan amal-amal yang besar di dalam masjid.


Demikian yang dapat saya sampaikan, jika ada kekurangan dan kesalahan, maka itu datangnya dari diri saya sendiri, untuk itu saya mohon maaf. Dan apabila ada kebenarannya maka itu datangnya dari Alloh semata.


Akhirul kalam, wabillahitaufiq wal hidayat


Wassalamualaikum wr. Wb.









Kejujuran



Assalamualaikum wr. Wb.


Alhamdulillah, alhamdulillahirabbil alaamin wabihii nastainu ala umuriddunya wadin wassholatu wassalamu ala ashrofil anbiya i wal mursalin sayyidina wa maulana muhammadin wa alaa alihii wa shohbihi ajmaiina amma ba’du.


Yang saya terhormat bapak ibu dewan juri.


Yang saya hormati bapak ibu pendamping, serta teman-teman peserta pentas pendidikan agama islam yang saya sayangi.


Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayahnya kepada kita sehingga kita dapat berkumpul disini dalam keadaan sehat wal afiyat. Tak lupa shalawat serta salam selalu kita sanjungkan kepada nabi besar, baginda Rasulullah saw. Semoga kita kelak mendapatkan syafaatnya di yaumul kiyamah. Aaaaamiin.


Terimakasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya. Saya disini akan menyampaikan sedikit uraian mengenai kejujuran.


Sebagai pengantar saya ingin menyampaikan sebuah cerita.

Suatu hari, ketika seorang kakek, penebang kayu, sedang menebang pohon, ia kehilangan satu2nya kapak yg ia punya karena terjatuh ke sungai. Dia menangis & berdoa, hingga muncul malaikat dan bertanya kepadanya:

“Mengapa engkau menangis?” 
Sambil terisak si kakek bercerita tentang satu2nya kapak alat pencari nafkahnya telah terjatuh ke dlm sungai.

Malaikat menghilang seketika & muncul kembali dgn membawa Kapak Emas sambil bertanya: “Apakah Ini Kapakmu?” 
“Bukan,” jawab kakek Itu.
Lalu malaikat menghilang lagi & muncul kembali dgn membawa Kapak Perak sambil bertanya lagi: “Apakah ini kapakmu?”
“Bukan,” sahut kakek itu sambil menggelengkan kepala.

Setelah menghilang sekejap, malaikat itu kembali lagi dgn membawa kapak yg jelek dgn gagang kayu & mata besi. “Apakah ini kapakmu?”,
“Ya, benar ini kapak saya."
“Kamu adalah orang jujur, oleh karenanya aku berikan ketiga kapak ini untukmu Sebagai imbalan atas kejujuranmu!”
Kakek itu pulang ke rumah dgn rasa syukur & sukacita.

Beberapa hari kemudian, ketika menyeberangi sungai, isterinya terjatuh & hanyut ke dlm sungai.

Si kakek menangis dgn sedih & berdoa.
Muncullah pula malaikat yg memberinya 3 Kapak tempo hari. 
“Mengapa engkau menangis?”,
“Isteriku satu2nya yg amat kucintai terjatuh & hanyut ke dlm sungai.”. 
Lalu malikat menghilang & muncul kembali dgn membawa Luna Maya sambil bertanya “Apakah ini isterimu?”, “Ya.”
Malikat amat murka & berkata “Kamu bohong! Kemana perginya kejujuranmu?”
Dgn ketakutan sambil gemetaran kakek itu berkata, “Jika aku tadi menjawab bukan, engkau akan kembali lagi dgn membawa Cut Tari & jika kujawab lagi bukan, engkau akan kembali dgn membawa isteriku yg sebenarnya & saya pasti akan menjawab benar, lalu engkau akan memberikan ketiganya untuk menjadi isteriku. Saya ini orang tua renta... Tdk mungkin saya bisa seperti Ariel, please dech..






Kejujuran menempati kedudukan istimewa dalam ajaran Islam, karena ia merupakan penopang jalan kebaikan bagi manusia. Menurut Al-Qusyairi, kejujuran menempati kedudukan setingkat di bawah kenabian, sebagaimana firman Allah SWT, ''Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dan orang-orang yang menetapi kebenaran.'' (QS An-Nisa [4]: 69).

Alquran memuji orang-orang yang jujur lebih dari lima puluh kali. Salah satunya yang termaktub dalam surah al-Ahzab [33] ayat 24, ''Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang-orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka.''

Kejujuran yang bagaimanakah yang dimaksud oleh Alquran itu? Salah satu cirinya adalah jika batin seseorang serasi dengan perbuatan lahirnya. Sebagaimana diriwayatkan Abu Qilabah bahwa Umar bin Khathab RA melarang umat Islam menilai dan melihat puasa atau shalat seseorang, tetapi hendaknya melihat kejujuran ucapan seseorang jika ia berbicara, amanahnya jika ia diberi tanggung jawab, dan kemampuannya meninggalkan apa pun yang meragukan jika mendapat kenikmatan dunia.

Sementara itu, Al-Junayd menyatakan bahwa inti kejujuran adalah jika seseorang berkata benar dalam situasi-situasi di mana hanya dusta yang bisa menyelamatkannya. Pernyataan senada juga diutarakan Imam Thabari. Ia menekankan pentingya seseorang berkata dan berbuat jujur dalam kehidupan sehari-hari, walaupun kejujuran itu akan membunuh atau membinasakannya.

Contoh ideal dalam hal ini tentunya Rasulullah SAW. Kejujuran beliau yang mencerminkan ketinggian akhlak dipuji oleh Alquran, ''Dan engkau sungguh mempunyai akhlak yang agung.'' (QS al-Qalam [68]: 4). Berlaku jujur sama halnya membangun keluhuran moral dan mental untuk menciptakan suasana sosial yang lebih harmonis dan tenteram.

Oleh karena itu, kejujuran mesti tertanam dalam jiwa semua orang yang beriman. Berkata bohong, berkomentar kontroversial, justru akan menyebabkan fitnah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Selayaknyalah kita sama-sama menjaga kebersamaan dengan menjunjung tinggi kejujuran demi terciptanya bangsa yang bermartabat.


Demikian yang dapat saya sampaikan, jika ada kekurangan dan kesalahan, maka itu datangnya dari diri saya sendiri, untuk itu saya mohon maaf. Dan apabila ada kebenarannya maka itu datangnya dari Alloh semata.


Akhirul kalam, wabillahitaufiq wal hidayat


Wassalamualaikum wr. Wb.





Islam Rahmatan Lil Alamin



Assalamualaikum wr. Wb.


Alhamdulillah, alhamdulillahirabbil alaamin wabihii nastainu ala umuriddunya wadin wassholatu wassalamu ala ashrofil anbiya i wal mursalin sayyidina wa maulana muhammadin wa alaa alihii wa shohbihi ajmaiina amma ba’du.


Yang saya terhormat bapak ibu dewan juri.


Yang saya hormati bapak ibu pendamping, serta teman-teman peserta pentas pendidikan agama islam yang saya sayangi.


Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayahnya kepada kita sehingga kita dapat berkumpul disini dalam keadaan sehat wal afiyat. Tak lupa shalawat serta salam selalu kita sanjungkan kepada nabi besar, baginda Rasulullah saw. Semoga kita kelak mendapatkan syafaatnya di yaumul kiyamah. Aaaaamiin.


Terimakasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya. Saya disini akan menyampaikan sedikit uraian Islam rahmatan lil alamin. Sebelum membahas lebih lanjut, alangkah baiknya jika kita mengkaji dulu apa sih arti islam rahmatan lil alamin itu. Kata “islam” adalah kata bahasa arab yaitu “salima” Yaslamu, yang dimasdarkan menjadi “islaman” yang berarti damai. Kata ‘rahmatan” kata bahas Arab yaitu “rohima” yang dimasdarkan menjadi “ rahmatan’ yang artinya kasih sayang. Kata “Al-alamin” adalah kata bahasa Arab yaitu “alam” yang dijama’kan menjadi “alamin” yang artinya alam semesta yang mencakup bumi beserta isinya.


Maka yang dimaksud dengan islam rahmatan lil’alamin adalah islam yang kehadirannya ditengah kehidupan masyarakat mampu mewujudkan kedamaian dan kasih sayang magi manusia maupun alam. Pernyataan bahwa Islam adalah agamanya yang rahmatan lil ‘alamin sebenarnya adalah kesimpulan dari firman Allah swt:





وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ ﴿١٠٧﴾


“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.(QS.Al-Alnbiyah:107) 



Islam merupakan agama yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW yaitu pada saat Rasulullah SAW berumur 24 tahun.


Keadaan bumi sebelum masuknya Islam merupakan keadaan yang amat buruk dan menggenaskan dimana sebagian dari manusia ada menyembah pohon, batu, patung (berhala), matahari, bulan dan bintang, bahkan ada yang menyembah sesama manusia yang mana kesemuanya itu adalah ciptaan Allah SWT. Manusia yang hidup dimasa itu tidak lagi mempunyai rasa kemanusiaan dan keadilan. Yang kuat akan semakin berdiri tegak dan ditakuti, sedangkan yang lemah akan semakin tertindas.


Kebiasaan-kebiasaan manusia pada saat itu tidak lagi mencerminkan manusia yang mempunyai akal seperti yang telah diberikan Allah SWT untuk berfikir dan merenungkan karunia dan ni’mat Allah SWT melainkan akal mereka telah ditundukkan oleh hawa nafsu. Kezaliman terjadi dimana-mana. Bahkan mereka tega untuk mengubus hidup-hidup anak perempuan yang baru saja dilahirkan oleh ibunya. Karena mereka menganggap anak perempuan itu adalah aib bagi mereka. Intinya sebelum Islam datang keadaan bumi adalah jahiliyah. Orang jahiliyah itu bodoh dalam agama, moral dan hukum tapi pandai dalam sastra dan teknologi.


Hadirnya Islam di dunia membuat perubahan besar dalam kehidupan manusia, terutama dalam pengembangan i1mu. pengetahuan. Karma Islam memerintahkan untuk menggunakan kekuatan intelegasinya dan obsesinya, dalam beberapa tahun penyebaran agama Islam peradaban dan universitas-universitas berkembang dengan pesat, Berita pemikiran yang baru dengan yang lama menghasilkan kemajuan dalam bidang medis, matematika, fisika, astronomi, geografi, arstektur, semi sastra dan sejarah. Banyak system yang krusial seperti Aljabar, Angka Arab, dan konsep angka nol (bilangan yang amat dipedukan dalam kemajuan ilmu eksakta) yang disebarkan ke Eropa pada abad pertengahan berasal dan duma Islam. Peralatan-peralatan yang canggih memungkinkan orang-orang Eropa melakukan perjalanan untuk penemuan seperti astrolabe, kuadran, pets navigasi yang " juga dikembangkan oleh umat Islam. Itulah sebabnya Islam disebut agama yang rahmat dan al'amin karena Islam hadir ke dunia mambawa karma yang amat berarti bagi manusia bukan Baja umat Muslim tapi seluruh ciptaan Allah SWT di jagad raya termasuk non muslim.


Kalo kita mau menelaah lebih dalam lagi bukti-bukti yang nyata bahwa islam adalah rahmat bagi seluruh alam sangatlah banyak. Misalnya, saat bulan puasa saja, yang merasakan berkah dari bulan ramadhan itu bukan hanya orang-orang muslim saja tapi juga orang-orang non muslim semisal para penjual pakaian. Satu ilustrasi lagi, saat orang non muslim hadir di lingkup lingkungan orang-orang muslim kebanyakan dari mereka akan merasa nyaman karena islam itu ialah agama yang damai. Sebaliknya sudah kita ketahui dan buktinya adalah saudara-saudara kita yang saat ini ada di jalur gaza. Yang diserang oleh orang-orang non muslim, dan masih banyak lagi yang lainnya.


Maka dari itu kita harus berhati-hati di saat ini. Karena kita ini sedang hidup di jaman jahiliyah modern, jahiliyah tapi modern, modern tapi jahiliyah. Tegaskan lagi islam dalam hati kita, hadapi semua tantangan berikan rahmat untuk dunia. Yakin seyakin-yakinnya bahwa islam adalah satu-satunya agama yang di ridhoi Allah SWT. Dalam QS. Al Imran: 19 Allah berfirman:






نَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإِسْلامُإِ


“Agama yang diridhai oleh Allah adalah Islam” 




Jangan sampai kita kalah dengan hewan dalam menikmati rahmat itu. Hewan saja bertasbih, hewan saja bersyukur. Sebagai contoh, bebek, kalo anda mendengar bebek mungkin hanya terdengar ngosh, ngosh, ngosh, padahal mereka itu bertasbih subhanallah, subhanallah, subhanallah. Sapi, kalo di beri makan mungkin kita hanya mendengar emmmmmmoooooooaaaahhhh, sesungguhnya dia bilang alhamdulillllaaaaahhh.... lalu, tawon, kalo kita dengarkan tawon terbang kan hanya terdengar weng weng weng weng weng, padahal dia itu bertakbir Allah Allah Allah Allah- Allah Allah Allah Allah.


Kita juga jangan sampai kalah dengan katak, katak itu ngaji, kul ing kuntum kul ing kuntum kul ing kuntum, kalo kataknya agak bodohan ya qulhu qulhu qulhu. Loh dalilnya kan jelas bahwa semua hewan itu bertasbih kepada Allah, yaitu dalam QS At-Taghabun ayat 1:




يُسَبِّحُ لِلّهِ مَا فِي السَّموَاتِ وَ مَا فِي اْلأَرْضِ


Yang artinya bahwa Semua makhluk, termasuk hewan dan tumbuhan, bertasbih kepada Allah SWT.






Sekarang tinggal bagaimana cara kita menikmati dan menyebarkan islam rahmatan lil alamin itu.






Demikian yang dapat saya sampaikan, jika ada kekurangan dan kesalahan, maka itu datangnya dari diri saya sendiri, untuk itu saya mohon maaf. Dan apabila ada kebenarannya maka itu datangnya dari Alloh semata.


Akhirul kalam, wabillahitaufiq wal hidayat


Wassalamualaikum wr. Wb.









Berbuat Baik Kepada Orang Tua



Assalamualaikum wr. Wb.


Alhamdulillah, alhamdulillahirabbil alaamin wabihii nastainu ala umuriddunya wadin wassholatu wassalamu ala ashrofil anbiya i wal mursalin sayyidina wa maulana muhammadin wa alaa alihii wa shohbihi ajmaiina amma ba’du.


Yang saya terhormat bapak ibu dewan juri.


Yang saya hormati bapak ibu pendamping, serta teman-teman peserta pentas pendidikan agama islam yang saya sayangi.


Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayahnya kepada kita sehingga kita dapat berkumpul disini dalam keadaan sehat wal afiyat. Tak lupa shalawat serta salam selalu kita sanjungkan kepada nabi besar, baginda Rasulullah saw. Semoga kita kelak mendapatkan syafaatnya di yaumul kiyamah. Aaaaamiin.


Terimakasih atas kesempatan yang telah diberikan kepada saya. Saya disini akan menyampaikan sedikit uraian mengenai berbuat baik kepada orang tua.


Pertama, dan yang utama yang perlu teman-teman ketahui bahwa berbuat baik kepada kedua orang tua merupakan salah satu perbuatan yang paling dicintai Allah. Dalam sebuah hadist diriwayatkan telah datang seseorang kepada Rasulullah saw dan bertanya “Apakah perbuatan yang paling dicintai Allah Azza wa Jalla?” Nabi menjawab,”Shalat pada waktunya”. Kemudian ia bertanya lagi "Lalu apa?." Rasulullah menjawab, 'Kemudian berbuat baik kepada kedua orang tua'.Lalu ia kembali bertanya, "Lalu apa?" Rasulullah menjawab, "Kemudian jihad dijalan Allah'." Abdullah berkata, 'Rasulullah menerangkan perkara tersebut kepadaku. Sekiranya aku meminta tambahan kepadanya, maka niscaya beliau akan menambahnya untukku.”


رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ 


"Ridha Tuhan terletak pada ridha kedua orang tua dan kemurkaan Tuhan terletak pada kemurkaan kedua orang tua".


Subahanallah, betapa Allah menekankan kepada kita tentang berbuat baik kepada orang tua. Nah, sekarang malah banyak anak yang berani dengan orang tua. Loh, disuruh salaman dama orang tua aja kadang nggak mau tapi kalo disuruh salaman sama gebetannya, tangane dicium sampe bunyi ciiiiitttt. Saya sebuah kalimat yang ingin saya sampaikan kepada teman-teman yang mana kalimat ini sangat penting, kalimat ini adalah “selamanya anak tidak akan bisa membalas budinya aorang tua.” Saya ulangi-saya ulangi “selamanya anak tidak akan bisa membalas budinya aorang tua.”


Loh, bayangkan saja kalau tidak ada orang tua tidak ada anak. Teman-teman ini ada yang lahir pecah dari batu, mletek saka watu. orang tua pernah mengandung anak, anak belum pernah mengandung orang tua. Orang tua pernah melahirkan anak, anak belum pernah melahirkan orang tua. Orang tua berkalu-kali nyeboki anak, anak nyeboki orang tua itu Cuma kalau mau mati. Orang tua merawat anak lama tahun-tahunan, anak merawat orang tua Cuma sebentar. Orang tua merawat anak itu yang diharapkan hidupnya anak, sakit, bingung yang cari obat. Orang tua merawat anak itu yang diharap-harapkan hidupnya anak, tapi kalo anak merawat orang tua itu sambil menunggu matinya.


Lha orang tua merawat anak ikhlas, nggak ada orang tua merawat anak minta gajian, ikhlas. Tapi, anak mau merawat orang tua itu minta pegangan sawah, rumah, tanah, dll. Kalo sini begitu? Engh, berarti orang desaku ketularan dari sini. Baru tau aku kalo sumbernya ngumpul disini. J


Makanya kalau orang jawa itu punya sanepan. Wong tuo kuwi mripat anak kuwi kentol. Nek kentol getihen mripat melu nangis nrocoh, tapi nek mripat keculek kentol ra nggadeg. Kalau anak susah orang tua ikut susah, kalau anak sakit orang tua ikut sakit, tapi kalau orang tua susah anak nggak mau susah orang tua sakit anak nggak mau ngurusin.


Bapakmu sakit ya?


Katanya iya. Kata orang-orang itu, aku juga belum kesana.


Ya Allah.....


Ini ada bahasa inggrisnya bro, tol tol to beseli, to tol tol robeseli. Kok diketawain to. Loh yang ditandai tol sama linya aja itu gimana. Nek kentol kecantol mata brebes mili tapi nek mata kecantol kentol ora mbrebes mili. Itu bahasa inggrisnya tol to beseli, to tol tol robeseli. Se sayang-sayangnya anak kepada orang tua tidak bisa mengalahkan sayangnya anak kepada orang tua. Ibarat kalo senengnya anak sama orang tua itu se kelapa tapi kalo sayangnya anak ke orang tua itu seupa, sebulir nasi. Sebesar-besarnya bulir nasi tidak akan mengalahkan besarnya buah kelapa walaupun kelapanya cacat.


Loh, orang tua ijazah cuma M SATU, MI, tapi bisa jadikan anaknya sarjana. Berarti ukuran pintarnya anak itu Cuma imbang sama ukuran bodohnya orang tua. Allahumma sholli alaa muhammad.


Gitu aja lo, kalo anak udah sukses sering lupa sama orang tua. Padahal orang tua nggak dapat apa-apa. Paling cuma cerita sama tetangga-tetangga, bangga anaknya udah jadi orang. Cuma dapat bangganya, karena orang tua merawat anak itu ikhlas. Apa ada anak udah sukses orang tua bilang gini “nak, kamu sekarang sudah sukses sudah jadi DPR, dulu bapak merawat kamu sampe sekarang sudah 25 tahun, sekarang hitung sendiri saja dulu bapak merawat kamu sehari 20 rb. J


Bahkan saya pernah mendengarkan ceramah dari pak kiai. Kamu pengen hidupmu makmur. Udah tidak usah memikirkan nasibmu terus, pikirkan nasib orang tuamu insyaAllah, nasibmu akan dipikirkan oleh Allah, loh orang tua itu ibarat Qur’an Amoh, Qur’an bekas, walaupun bekas tapi itu Al-Qur’an. Sejelek-jeleknya orang tua itu ibarat Qur’an bekas, garus tetap dihormati, tetap berbuat baik kepada keduanya. Mulyakan jangan sampai dibiarkan.


Sudahkan kita mendoakan orang tua kita setiap selesai salat lima waktu atau di lain kesempatan? Apa yang telah kita lakukan untuk orang tua kita? Sudahkah kita membayangkan apa yang akan terjadi pada kita jika hidup tanpa orang tua? Apakah jasa-jasanya telah kita balas? Mampukah kita membalasnya? Ataukah harta dan kekayaan kita mampu menggantikan segala jasa orang tua kita? Masih banyak pertanyaan yang perlu kita renungkan dan camkan pada diri kita.


Demikian yang dapat saya sampaikan, jika ada kekurangan dan kesalahan, maka itu datangnya dari diri saya sendiri, untuk itu saya mohon maaf. Dan apabila ada kebenarannya maka itu datangnya dari Alloh semata.


Akhirul kalam, wabillahitaufiq wal hidayat


Wassalamualaikum wr. Wb.